Mereka ‘Lebay’

0
290

Oleh : Syaiful Arifin (Pemerhati Mamuju)

Ketidakdewasaan dipertontonkan oleh wakil rakyat di Mamuju. Hanya berbeda persepsi, puluhan dewan terhormat itu enggan menghadiri rapat paripurna hari jadi Mamuju ke 480 tahun, Selasa 14 Juli 2020, kemarin.

‘Lebay’ kata yang pantas disematkan buat mereka-mereka yang tak hadir. Tontonan yang tidak boleh ditiru oleh generasi berikutnya.

Acara sakral setiap setahun itu dinodai dengan keegoisan berpikir para wakil rakyat yang berpendidikan itu.

Pantaskah ‘ditiru’ ? Jawabnya tidak.

Penulis mengutip dari catatan Fathur Anjasmara bahwa mestinya hari jadi itu, dimaknai sebagai ruang, untuk tempat kembali bersama, menjadi titik nadir bagi setiap jiwa yang hidup di ruang Manakarra.

Seabrek apapun masalahmu di rumah Manakarra, hari jadi menjadi perekatnya, penawarnya, silammungan ada’mu, berbicara dari hati ke hati, yang muda merendah kepada yang tua, yang tua mengayomi yang muda, dalam bingkai tali kasih dan silaturrahmi.

Mestinya hari jadi itu, menjadi perisai dari keretakan kita, akibat sudut pandang yang berbeda memaknai setiap sekat di rumah Manakarra.

Bukankah kita bersepakat Manakarra adalah Kasolongan Raraku, Rarata, Raramu, lalu justru kita membiarkannya terpercik kemana mana hanya karena egoisme kita dari perbedaan rasa iniā€¦..”???!!!”

Sungguh sangat disayangkan, hal yang tak perlu dimunculkan tapi dipertontonkan dengan sikap egoisme.

Rakyat akan bingung menaruh harapan kepada siapa, sedangkan wakil rakyatnya saja begitu. Lantas apakah persoalan ini akan selesai begitu saja ? Tidak. Tentu ini akan menjadi memori kelam digenerasi selanjutnya.

Berkaca pada diri, apa yang selama ini kurang. Rapikanlah langkahmu agar langkah itu bisa menjadi jejak yang baik buat para generasimu.

Mamujuku sayang, Mamujuku terlupakan. 480 tahun menjadi sejarah buruk di Bumi Manakarra. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here