Meninggalkan Pulau Popoongan

0
118

Oleh Fadiah Azis (Direktur Fakta79.Net)

Seperti yang direncanakan, Menteri Kelautan Dldan Perikanan RI tiba di Pulau Popoongan pada hari Senin, 8 Juni 2020, sekitar pukul 14.00 Wita, didampingi oleh anggota Komisi IX Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Muh. Idris.

Pada kunjungannya yang bertepatan dengan peringatan Hari Laut Sedunia. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersama Gubernur Sulawesi Barat H. M. Ali Baal Masdar melakukan penanaman (transpalantasi) karang guna memulihkan ekosistem terumbu karang di Pulau Popoongan.

Pulau popoongan yang terletak di Kabupaten Mamuju adalah salah satu kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil, yang memiliki sekitar 65 persen tutupan lamun, sebagai makanan yang disukai oleh penyu yang setiap pagi hingga sore setia menemani warga bermain di pulau ini.

Setelah rombongan Menteri Edhy Prabowo terbang menuju lokasi selanjutnya, rombongan kami pun bersiap tuk meninggalkan pulau nan indah dengan masyarakat yang ramah ini. Kusematkan dalam hati akan kuajak keluargaku tuk menikmati panorama alam pulau Popoongan ini suatu hari nanti.

KAL Mamuju, Nyaman

KRI Layang-635 jajaran Koormada II dan Kapal Angkatan Laut (KAL) Mamuju II-6-64 jajaran Lantamal VI Makassar yang akan mengantar kami kembali ke Mamuju, kini telah meninggalkan dermaga Pulau Popoongan. Penampakan pulau dengan sejuta keindahan itu lamat-lamat dan akhirnya hilang dari pandangan mata berganti hamparan lautan luas.

Ada kehawatiran di hati, karena kali ini ibu ketua TP. PKK Provinsi Sulawesi Barat Hj. Andi Ruskati Ali Baal yang akrab kami sapa Puang Bau ikut dengan rombongan kami menggunakan (KAL) Mamuju karena Gubernur ikut bersama rombongan Menteri. Bagaimana jika nanti beliau mengalami mabuk laut ? pikirku semakin jauh.

Saya dan ibu-ibu lainnya berusaha terus ngobrol banyak hal, untuk membuang trauma mabuk laut layaknya pengalaman kami ketika menuju pulau Popoongan (baca : Menuju Pulau Popoongan).

Ketika kulirik Puang Bau disebelahku, ternyata beliau sudah terlelap tidur. Dan akhirnya ibu-ibu lain pun menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.

Perjalanan kali ini sangat berbeda, tak ada suara penumpang muntah. Ayah Ancha dan Ur serta penumpang lain asyik bercanda. Suara tawa dari buritan terdengar hingga keatas. Bahkan ada sekelompok bapak-bapak bermain kartu. Saya yakin, kondisi penumpang kali ini dalam keadaan baik. Saya pun duduk santai di haluan depan.

“Bintang Jatuh,” ucapku sedikit teriak.

Padahal saya tahu itu bukan bintang tapi meteor. Tapi “bintang Jatuh” itu lebih mudah terucap mungkin karena sedari kecil sering menyebutkannya.

Kapal ini sungguh tenang, serasa berada diatas mobil di jalan yang mulus. Tak ada goyangan indah. Air laut tenang nyaris tak berombak. Langit malam indah dengan kerlipan bintang nun jauh disana.

Rombongan Tiba di Mamuju

Pukul 22.30 Wita, lampu-lampu yang menyinari Kota Mamuju sudah terlihat. Alhamdulillaah, kerinduan pada anak dan keluarga semakin membuncah.
Puang Bau sempat keluar duduk di haluan depan.

“Alhamdulillah, semua penumpang sehat,” ucap perempuan Malaqbi ini dengan wajah bahagia.

Seorang prajurit TNI ABK (KAL) Mamuju Azhar menghampiri kami dan menanyakan kondisi. “bagaimana bu, aman ?,”. Serempak ibu-ibu menjawab “Mantap”.

“Besok kita ke Popoongan lagi,” ucap Namira Syammi salah satu penumpang kapal sambil tertawa.

KAL Mamuju bersandar di Dermaga Lanal Mamuju. Satu persatu penumpang berpelukan dengan keluarga yang menjemput. Pun dengan diri saya.

Pulau Popoongan nantikan aku kembali. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here