BKKBN Sulbar Gandeng Profesor Bicara Stunting

0
51

Mamuju. fakta79. net– Stunting masih merupakan kendala dalam  pembangunan SDM Indonesia. Stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya. Tapi ingat, “stunting itu pasti bertubuh pendek, sementara yang bertubuh pendek belum tentu stunting”, jelas Kepala BKKBN Dr (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG. (K) pada acara “Seminar 100 Profesor Bicara Stunting”, atas kerjasama BKKBN Pusat, Asosiasi Profesor Indonesia (API), dan seluruh Perwakilan BKKBN Provinsi di Indonesia.

Di Sulawesi Barat, seminar yang dilaksanakan secara virtual dan diikuti sekitar 200 peserta, Rabu (7 Juli 2021), mengambil tema, “Stunting; Perspektif Gizi dan Pendidikan”.

Dokter Hasto juga menerangkan, “Awal tahun 2021, Pemerintah Indonesia menargetkan angka Stunting turun dari 27.7% di tahun ini menjadi 14 persen di tahun 2024 dan Presiden Joko Widodo menunjuk Kepala BKKBN menjadi Ketua Pelaksana Percepatan Pencegahan Stunting,” terangnya.

Dokter Hasto kemudian berujar, “Kondisi kependudukan sekarang membutuhkan SDM yang unggul untuk Indonesia maju, karena kita lihat bahwa proporsi pemuda cukup besar dan menjadikan beban yang besar juga bagi bangsa dan negara untuk menciptakan generasi muda yang berkualitas. Kalau kita lihat proporsi antara yang produktif dan yang tidak produktif, maka kondisi Indonesia saat ini sangat strategis karena _Defendency Ratio_  sangat rendah, sehingga peluang bonus demografi bisa lebih awal diterima oleh bangsa kita,” ujar dokter Hasto.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Prof. Drh. Rizal Damanik, MRepSc, PhD menambahkan, “Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dan berbagai kegiatan prioritas di dalamnya senantiasa diarahkan untuk mewujudkan SDM unggul di Indonesia. Peningkatan kualitas SDM adalah bagian yang strategis untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, dan makmur,” ungkapnya.

“Program penurunan angka stunting ini sangatlah memerlukan kolaborasi multisektor baik dari pemerintah maupun mitra swasta untuk bersama sama bersinergi khususnya dalam hal ini, BKKBN berkolaborasi dengan Asosiasi Professor Indonesia yang diharapkan dapat memberikan pandangan ilmiah dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan dapat diaplikasi di tingkat lini lapangan,” tambah Rizal.

Ketua Umum Assosiasi Profesor Indonesia (API) Pof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc menyebutkan, “Terkait dengan permasalahan stunting adalah permasalahan multi dimensi yang dapat didekati dari berbagai sudut pandang ilmuwan. Dengan demikian peran para profesor lintas disiplin ilmu sangat penting untuk tampil menyumbangkan pemikirannya dalam mengatasi permasalahan stunting di negeri ini. Masalah penurunan angka stunting bukan hanya tugas pemerintah dalam hal ini BKKBN tetapi juga tanggung jawab semua pihak termasuk akademisi dan perguruan tinggi, yang kemudian pengalamannya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti,” jelas Ari.

Dalam seminar ini menampilkan dua Profesor sebagai narasumber, yaitu Prof. Dr. Gufron Darma Dirawan, ST GraDipl, EMD, M. END dan Prof. Dr. Ida Parwati, dr., Sp.PK (K), Ph.D.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here