Andi Ruskati : Salah Satu Penyebab Stunting adalah Nikah Usia Anak

0
18

Mateng, Fakta79 – Stunting di Sulawesi Barat masih menduduki posisi lima besar di Indonesia. Fakta ini memicu pemerintah pada dinas terkait untuk melakukan intervensi langsung kepada masyarakat.

Seperti yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat dengan menggandeng TP PKK dalam melakukan Penyuluhan kepada kader PKK dan masyarakat dalam acara penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah stunting yang berlangsung di Puskesmas Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), pada Selasa, 23 Maret 2021.

Kegiatan penyuluhan ini merupakan kerjasama Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat pada Bidang Kesehatan Masyarakat Seksi Promosi Kesehatan dan TP PKK Provinsi Sulawesi Barat. Turut hadir Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, Muh. Ikhwan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, Asran mengatakan bahwa penyuluhan ini dilaksanakan di enam kabupaten se Sulawesi Barat.

“Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan di enam kabupaten dan hingga hari ini kami telah lakukan penyuluhan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Pasangkayu dan Mamuju Tengah,” ucap Asran.

Asran menambahkan pada kegiatan ini para kader dan peserta antusias dan aktif menyimak materi yang diberikan.

“Saya nilai di 2 titik pelaksanaan penuyuluhan semua peserta antusias dan aktif mengikuti materi yang ada. Tentunya hal ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berupaya agar stunting dapat kita cegah dan tentunya menurunkan angka stunting di Sulawesi Barat,” tambah Asran.

Pada kesempatan tersebut, Ketua TP PKK Andi Ruskati Ali Baal mengatakan banyak hal yang menyebabkan terjadinya stunting, salah satunya adalah tingginya angka nikah usia anak.

“Pernikahan usia anak adalah salah satu faktor penyebab penyumbang terbesar stunting di Sulawesi Barat,” urai perempuan Malaqbi ini.

Menurut Andi Ruskati, dibutuhkan fisik dan pemikiran yang mantap sebelum melakukan pernikahan.

“Pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral dari segi agama. Dan sebagai orangtua kita wajib mengingatkan anak selain mantap agama, fisik juga harus lebih diperhatikan. Seorang perempuan yang merupakan calon ibu harus memiliki fisik standar sebelum mengandung. Artinya, jika seorang ibu hamil maka harus ditunjang dengan fisik yang kuat agar kelak akan melahirkan anak yang sehat,” urai Andi Ruskati.

Andi Ruskati juga memaparkan bahwa perkawinan pada usia anak bisa jadi akan menimbulkan dampak negatif baik bagi anak yang akan menikah maupun anak yang kelak akan dilahirkan.

“Perkawinan usia anak kemungkinan besar akan memberi dampak negatif bagi tumbuh kembang anak dan akan menyebabkan tidak terpenuhinya hak dasar anak seperti hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, hak sipil anak, hak kesehatan, hak pendidikan, dan hak sosial anak,” papar anggota Komisi IX DPR RI ini.

UU No. 16/2019 tentang perubahan atas UU No. 1/1974 tentang perkawinan telah menaikkan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun.

Dengan demikian bagi perempuan yang menikah di bawah usia 19 tahun merupakan nikah pada usia anak. (Advertorial/fa/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here